Umat Hindu Malang Raya Gelar Melasti di Pantai Balekambang

Sabtu, 9 Maret 2013 - 20:26 WIB • Dibaca 172 kali

Umat Hindu di Kabupaten Malang, saat prosesi melasti di pantai Balekambang, Kabupaten Malang, Sabtu (09/03/2013) – Foto: Kompas.com

BANTUR, MALANGRAYA.info – Ribuan umat Hindu di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu) Jawa Timur melaksanakan prosesi ritual Melasti jelang Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1935, di pantai Balekambang, Kabupaten Malang, Sabtu (9/3/2013). Ribuan Umat Hindu Malang Raya sejak Sabtu pagi berbondong-bondong mendatangi pantai kebanggaan warga Malang tersebut.

Baca Juga

Di pantai pasir putih tersebut berdiri Pura Agung yang terdapat di tengah laut. Majelis Tertinggi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Malang, I Gusti Putu Wilapa kepada Kompas.com ditemui seusai ritual Melasti mengatakan, upacara Malesti dapat disesuaikan dengan kondisi, waktu dan lingkungan setempat (desa, kala, patra).

Putu Wilapa menjelaskan, ritual Melasti bermakna membersihkan “pratime” atau benda-benda yang disakralkan itu ke laut, danau atau sumber mata air. “Jika umat bermukim dekat pantai dapat melakukan prosesi Melasti ke laut, dan bagi yang tinggal di daerah pegunungan melakukannya ke danau,” katanya. Sementara untuk masyarakat yang tinggal di lokasi jauh dari laut maupun gunung, ritual Melasti dapat dilakukan ke sumber mata air terdekat.

Dalam sembahyang Melasti, umat Hindu se-Malang Raya mendatangi pantai Balekambang sembari membawa sesaji dan peralatan suci, diiringi alunan musik tradisional Bali (gamelan) yang bertalu-talu.

Menurut Putu Wilapa, prosesi Melasti ini merupakan ritual untuk memperingati pergantian Tahun Baru Saka 1935. Setelah Melasti, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan upacara “Tawur Kesanga” sehari menjelang Nyepi.

Upacara “Tawur Kesanga” bermakna meningkatkan hubungan yang serasi dan harmonis antara sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa. “Tawur Kesanga” yang berakhir pada petang hari, dilanjutkan dengan “Ngerupuk” yang bermakna menetralkan alam semesta agar bersih dari semua kekuatan dan pengaruh negatif “Bhutakala”, yakni roh atau makluk yang tidak kelihatan secara kasat mata.

“Keesokan harinya, umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1935 dengan melaksanakan Tapa Berata penyepian,” katanya.

Menurut Putu, ada empat pantangan (larangan) yang wajib dipatuhi oleh umat Hindu selama melaksanakan Nyepi. Di antaranya tidak menyalakan lampu (Amati Geni), tidak melakukan kegiatan (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan) serta tidak mengadakan rekreasi atau bersenang-senang (Amati Lelanguan).

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

  • Sumber : Kompas.com
  • Dipublikasikan : Joni Wijaya
x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti keris singosari karoseri adi putro sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs