Rektor IKIP Budi Utomo: Malang Kota Pendidikan Serba Ada

Selasa, 5 Maret 2013 - 16:39 WIB • Dibaca 1,182 kali

Nurkholis Sunuyeko, Rektor IKIP Budi Utomo Malang – Foto: ist

KLOJEN, MALANGRAYA.info – Secara empirik, ternyata sebutan Kota Malang sebagai Kota Pendidikan nyaris tak terkait dengan kinerja Pemerintah Kota Malang. Bila sebutan didasarkan pada keberadaan lembaga pendidikan jenjang dasar dan menengah, jelas bahwa di semua kabupaten dan kota di seluruh Indonesia juga memiliki sejumlah sekolah dan madrasah. Pun bila sebutan Kota Pendidikan didasarkan pada prestasi sekolah dan madrasah, ada cukup bukti bahwa kabupaten dan kota-kota lain juga memiliki prestasi yang tak selalu kalah dari Kota Malang.

Baca Juga

Singkat kalimat, sebutan Kota Malang sebagai Kota Pendidikan lebih didasarkan pada keberadaan sejumlah lembaga pendidikan tinggi. Sebagaimana dirilis oleh Website Pemerintah Kota Malang, paling tidak ada 14 universitas tiga institut, tujuh sekolah tinggi, serta empat Politeknik yang cukup dikenal secara nasional. Belum lagi sejumlah lembaga pendidikan profesional setara program diploma.

Karena keberadaan sejumlah besar perguruan tinggi tersebut, secara langsung berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan taraf hidup masyarakat Kota Malang. Sejumlah besar warga kota ini telah mendapatkan peluang bekerja dan berusaha dari keberadaan sejumlah besar mahasiswa yang tinggal di Kota malang. Pengamatan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat sekitar dan yang terkait dengan kehidupan kampus menunjukkan adanya kelesuan manakala kampus-kampus tersebut sedang libur panjang. Warung-warung tutup sementara, toko-toko dan mall sepi pengunjung, angkutan kota dan antar kota sepi penumpang, bahkan SPBU pun menjadi lebih lengang.

Sungguh, anugerah berupa keberadaan kampus dan kehadiran sejumlah besar mahasiswa telah ikut mengambil alih sebagian dari fungsi Pemerintah Kota Malang, terutama dalam menyediakan lapangan kerja dan usaha. Tak heran bila pada suatu kesempatan, beberapa pejabat kabupaten dan kota lain menyatakan rasa “cemburu”nya terhadap Kota Malang.

Tetapi, justru dari obrolan dengan pejabat dari kabupaten dan kota lain tersebut, muncul sebuah kesimpulan bagaimana seharusnya Pemerintah Kota Malang -yang secara formal tidak menangani bidang pendidikan tinggi- bisa membangun sinergi dalam rangka merawat dan mengembangkan hubungan yang baik dengan perguruan tinggi. Di samping menjalankan kewajiban bersama untuk memelihara dan menciptakan atmosfir Kota Malang sebagai kota pendidikan secara berkelanjutan.

Tentu kerjasama dimaksud tidak dalam arti kerjasama formal sebagaimana pasti sudah pernah dituangkan dalam nota kesepahamaman (memorandum of understanding) antara Pemerintah Kota Malang dengan sejumlah perguruan tinggi. Melainkan hubungan sinergetik yang meskipun tidak formal justru berdampak sangat positif bagi perkembangan ekonomi, sosial, politik dan budaya masyarakat Kota Malang.

Meskipun ratusan ribu mahasiswa dari luar kota secara administratif bukan merupakan warga Kota malang, secara empirik mereka adalah penduduk Kota Malang. Sebagaimana layaknya penduduk Kota Malang, mereka memiliki kebutuhan kebutuhan tempat tinggal yang layak, kebutuhan sarana angkutan, kebutuhan makan dan minum, kebutuhan layanan kesehatan, kebutuhan kegiatan rekreatif, kebutuhan layanan pos, telekomunikasi dan perbankan, serta kebutuhan perbukuan dan perpustakaan.

Sayangnya, pengamatan terakhir saya masih belum menunjukkan perbedaan kinerja dari sebuah survei yang dilaksanakan tahun 2007. Antara lain belum ada standar kelayakan pondokan dan rumah sewa mahasiswa, pelayanan angkutan umum khususnya untuk pelajar dan mahasiswa masih sangat memprihatinkan hingga mendorong mahasiswa membawa sendiri sepeda motor, belum ada standar kelayakan makanan dan minuman yang melayani mahasiswa. Demikian juga dalam pelayanan kesehatan yang menjangkau mahasiswa, serta tentu saja pelayanan yang menyangkut ruang terbuka dan pusat kegiatan rekreatif.

Sejumlah simpulan tersebut tentu memberi gambaran lebih jelas tentang kebijakan dan program apa saja yang bisa dikembangkan oleh Pemerintah Kota Malang sebagai Pemerintah Kota Pendidikan Tinggi.

Pada intinya, meskipun ketika di kampus para mahasiswa menjadi tanggungjawab Perguruan Tinggi, ketika di luar kampus mereka adalah penduduk Kota Malang. Kesehatan, kenyamanan dan bahkan kesejahteraan mereka sebagiannya juga sangat bergantung pada kebijakan dan program pelayanan Pemerintah Kota Malang.

Tak kalah pentingnya adalah ikut berperan dalam meyakinkan kepada dunia luar bahwa Kota Malang merupakan tempat berkuliah yang tak hanya memberikan jaminan kesehatan, kenyamanan dan kesejahteraan bagi mahasiswa, tetapi juga mempromosikan Kota Malang sebagai Kota Pendidikan Serba Ada (One-stop-shoping Education Town). Hendak menjadi ahli madya, sarjana, magister, doktor apa saja bisa dilakukan di Kota Malang.

Ini berarti bahwa secara terprogram, Pemerintah Kota Malang harus ikut ambil bagian dalam memasarkan perguruan tinggi yang ada di Kota Malang.

Logikanya sederhana, sebagaimana bisa diamati pada beberapa perguruan tinggi yang mengalami kemunduran dan bahkan penutupan, kegiatan ekonomi masyarakat sekitarnya pun mengalami kemunduran dan bahkan menciptakan pengangguran baru.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

x close
rektor baru ikip budi utomo malang ikip budi utomo malang berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti keris singosari karoseri adi putro sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs