SD Internasional Bani Hasyim Terancam Dieksekusi

Kamis, 6 Oktober 2011 - 13:01 WIB • Dibaca 2,654 kali

ILUSTRASI - Foto: kompas

KEPANJEN, MALANGRAYA.info – Tiga bangunan SD International Yayasan Bani Hasyim – Singosari, terancam dieksekusi oleh pihak Bank Syariah Bukopin-Sidoarjo. Keputusan Ketua Majelis Hakim, Dasriawati SH, yang menolak pengajuan perlawanan Yayasan Bani Hasyim kepada Bank Syariah Bukopin selaku terlawan, dalam sidang putusan di PN Kepanjen kemarin siang.

Baca Juga

Dengan putusan tetap tersebut, langkah Bank Syariah Bukopin untuk mengeksekusi tiga bangunan milik Bani Hasyim, yang mengalami kredit macet akan diteruskan. Sebelumnya, pengajuan eksekusi tiga bangunan (yaitu ruko, rumah Ketua Yayasan Bani Hasyim Aji Purnawarman dan sebagian bangunan sekolah) tertunda karena pihak Bani Hasyim mengajukan perlawanan.

"Eksekusi tetap akan kami teruskan. Tinggal menunggu kapan keputusan waktu lelangnya dari PN Kepanjen. Sembari menunggu waktu keputusan lelang, kami (Bank Syariah Bukopin) masih membuka jalan untuk perdamaian, jika memang pihak Bani Hasyim mau membayar sisa hutangnya," ungkap Akhmad Zaini, kuasa hukum Bank Syariah Bukopin.

Menurut cerita Zaini yang didampingi Muji Utomo, Staf Marketing Bank Syariah Bukopin bagian penagihan, awal perselisihan antara Bank Syariah Bukopin dengan Bani Hasyim, bermula dari pengajuan pinjaman uang yang dilakukan Bani Hasyim ke Bank Syariah Bukopin, yang saat itu masih bernama Bank Perserikatan Indonesia, pada 2007 lalu.

Pihak Bani Hasyim saat itu mengajukan pinjaman sebesar Rp 3,5 Miliar untuk pembangunan sekolah, dengan tiga bangunan milik Bani Hasyim sebagai jaminannya selama lima tahun.

Awal pembayaran memang tidak ada masalah. Namun, setelah berjalan setahun atau baru membayar Rp 1 Miliar, sudah mengalami kredit macet.

"Sebelum mengalami kredit macet, pihak Bani Hasyim sudah ada tunggakan. Saat pembayaran kredit nunggak itu, kami sudah memberi surat peringatan namun tidak diindahkan hingga Bani Hasyim mengalami kredit macet. Aturan di bank, nasabah dinyatakan kredit macet, setelah kol 5 (kolektibilitas 5) atau nunggak lebih dari 7 bulan," ungkap Zaini yang dibenarkan oleh Muji Utomo.

Sampai proses pergantian nama dari Bank Perserikatan Indonesia menjadi Bank Syariah Bukopin pada 2008-2009, pihak Bani Hasyim masih saja tidak membayar sisa hutang. Sekalipun, pihak Bank sendiri sudah memberitahu terkait pergantian nama tersebut.

Lantaran sampai pertengahan 2010 Bani Hasyim masih mengalami kredit macet itulah, akhirnya pihak Bank Syariah Bukopin mengajukan eksekusi lelang atas tiga bangunan yang dijaminkan ke PN Kepanjen.

"Sebelum pengajuan eksekusi itu, sebetulnya kami sudah berniat baik untuk menyelesaikan perdamaian. Namun, karena tidak ada titik temu itulah akhirnya kami mengajukan eksekusi," terangnya.

Namun, penetapan eksekusi lelang belum diputuskan, karena awal 2011 lalu Ketua Yayasan Bani Hasyim Aji Purnawarman, melalui kuasa hukumnya Maskur SH, mengajukan perlawanan. Alasan perlawanan sendiri, Maskur mengurai karena ada dugaan penggelembungan angka nilai hutang pada pengajuan eksekusi.

"Dimana seharusnya kekurangan hutang hanya sekitar Rp 2,5 Miliar, namun dipengajuan eksekusi menjadi sekitar Rp 3,2 Miliar. Sehingga ada penggelembungan dana sekitar Rp 700 juta, dimana itu adalah angka yang tidak jelas," ujar Maskur.

Selain itu, pihak Bani Hasyim sendiri, sebetulnya tidak lepas dari tanggungjawab dengan tidak mau membayar tunggakan, tetapi karena jangka waktu peminjaman masih panjang. Apalagi, kata dia, antara Bani Hasyim dengan Bank Syariah Bukopin, sebelumnya sama sekali tidak ada kesepakatan. Sebab kesepakatan peminjaman awal dengan Bank Perserikatan Indonesia.

Terkait dengan putusan Ketua Majelis Hakim sendiri, Maskur mengaku akan mengajukan banding atas putusan tersebut. Bahkan, Maskur menyatakan akan kembali mengajukan gugatan perlawanan jika memang usai putusan ini pihak Bank Syariah Bukopin, masih melanjutkan eksekusi bangunan.

"Jika eksekusi, kami akan mengajukan kembali gugatan perlawanan. Sebab sama sekali dalam perkara ini tidak ada wanprestasi. Yang lebih diperjelas, bahwa antara Bani Hasyim dengan Bank Syariah Bukopin, sebelumnya tidak ada kesepakatan. Soal sisa hutang pokok, sebetulnya Bani Hasyim sendiri mau membayar," tegas Maskur.

Dikonfirmasi ulang terkait adanya penggelembungan angka sebesar Rp 700 juta, M Zaini mengakui bahwa ada kesalahan ketik ketika pengajuan eksekusi itu.

Namun, hal itu sudah diralat dan dibetulkan ketika penyampaian jawaban saat sidang perlawanan. Sehingga terkait kesalahan ketik itu, dalam proses sidang sudah tidak ada masalah lagi.

"Memang sebelumnya ada salah ketik. Yang benar kekurangan hutang pokok Bani Hasyim itu adalah sekitar Rp 2,9 Miliar. Dimana Rp 2,584 Miliar itu adalah pinjaman pokoknya sedangkan sisanya adalah bunganya," tuturnya.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

x close
bani hasyim bani hasyim malang bani hasyim singosari berita terbaru tes guru sertifikasi online wilayah malang kota SDI Bani hasyim yayasan pendidikan bani hasyim malang foto dan nama guru di sdi bani hasyim sdi bani hasyim malang berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang kereta matarmaja Berita kriminal pemerkosaan pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti karoseri adi putro keris singosari sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs