Pedagang Desak Pemkot Promosikan BTC

Senin, 26 September 2011 - 09:18 WIB • Dibaca 403 kali

Foto: malang post

BATU, MALANGRAYA.info – Kondisi Batu Tourism Center (BTC) yang menjadi pusat wisata kuliner di Kota Baru mulai ditinggalkan para pedagang. Tidak sedikit kios dan bedak yang ada di BTC mulai diover kreditkan kepada orang lain. Padahal, rata-rata kredit pedagang kepada bank mencapai 10 tahun.

Baca Juga

Harga kios yang dipindah tangankan pun terus turun. Awalnya, pada pembukaan BTC pada Mei lalu, harga over kredit kios mencapai Rp 35 juta. Saat ini, harganya turun mencapai Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per kiosnya. Mereka yang memindah tangankan kios karena tidak mampu membayar angsuran ke bank dengan kondisi BTC yang sepi.

“Banyaknya juga yang diover kreditkan kepada orang lain. Harganya pun jauh lebih murah dari awal pembukaan lalu. Sekarang ada yang dijual Rp 10 juta per kiosnya ada juga yang dijual mahal," kata Ifin, salah seorang pedagang di BTC kepada Malang Post, kemarin.

Meski sudah dibuka sejak Mei lalu, perkembangan di BTC masih belum dapat meningkatkan penjualan pedagang yang ada di BTC. Pedagang masih merasakan berdagang di jalan (PKL) sebelumnya, masih lebih ramai daripada berdagang di BTC. Padahal, setiap bulannya mereka harus membayar angsuran kredit ke bank sebesar Rp 670 ribu lebih.

Saat weekend yang menjadi harapan para pedagang akan ramai, masih belum juga dapat diharapkan. Jumlah pengunjung yang datang ke BTC masih minim, jika melihat keramaian yang ada di Alun-alun Kota Batu.

“Kalau Sabtu dan Minggu masih lumayan, tapi kalau hari-hari biasa sangat sepi. Makanya banyak yang memilih tutup tidak berjualan," ungkapnya.

Dia berharap ada terobosan dari Pemkot Batu untuk membantu para pedagang dengan lebih banyak mensosialisasikan keberadaan BTC sebagai pusat wisata kuliner di Kota Batu, baik dengan pemasangan spanduk, baliho atau lainnya. Sehingga banyak wisatawan yang mengetahui keberadaan BTC.

“Begitu juga dengan parker bus. Harusnya, parkir bus dan kendaraan bisa ditempatkan di Jalan Kartini. Agar para wisatawan yang datang ke Alun-alun bisa juga singgah di BTC," terangnya.

Karena itu, hiburan live music yang ada di BTC sejak lebaran lalu sampai saat ini belum ada lagi. Dana hiburan yang ditarik dari pedagang rencananya akan digunakan untuk lebih mengenalkan BTC kepada wisatawan, bisa dengan pemasangan spanduk atau lainnya.

“Kalau diarahkan untuk publikasi bisa lebih manfaat dananya daripada untuk hiburan musik. Kalau di kota hal itu sudah biasa," terangnya.

Tompo, pedagang gado-gado di BTC malah memilih kembali lagi ke di pasar senggol di Jalan Sudiro untuk membuka usahanya kembali. Karena di BTC sangat sepi pengunjungnya. Sebelumnya, selama membuka bedak di depan GOR Ganesha sampai kewalahan melayani pembelinya. Hal itu berbeda ketika berdagang di BTC. Meski belum dipindahtangankan, kiosnya ditunggu putranya.

“Baik siang dan malam kondisinya sangat sepi. Sampai sekarang pun belum mampu untuk membayar angsuran ke bank," ujar pria yang mengawali berjualan di depan GOR Ganesha Kota Batu itu.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

  • Sumber : malang post
  • Dipublikasikan : Dyah Ayu
x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang kereta matarmaja Berita kriminal pemerkosaan pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti karoseri adi putro keris singosari sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs