Siswa SDN Sumberkerto I Belajar di Rumah Warga

Senin, 12 September 2011 - 16:13 WIB • Dibaca 116 kali

Foto: beritajatim.com

PAGAK, MALANGRAYA.info – Dunia pendidikan di Kabupaten Malang masih jauh dari harapan. Meski berstatus sekolah negeri, puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sumberkerto I, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang harus menempuh proses belajar mengajar di rumah warga. Deretan kursi tamu, almari kayu dan perabot khas lainnya termasuk sepeda motor, bercampur menjadi satu dengan murid-murid kelas satu dan dua.

Baca Juga

Ironisnya, lantaran tidak mempunyai ruang kelas permanen, siswa-siswi itu juga harus mendapatkan proses belajarnya dari dua guru sekaligus. Meski unik, pemandangan miris ini ternyata sudah lebih dari empat tahun lamannya.

“Sudah empat tahun anak-anak belajar dirumah warga. Selama tahun ini, kami sudah mengajukan dua kali anggaran untuk menambah kelas baru. Namun, belum ada kepastian dari dinas pendidikan,” ungkap Kepala Sekolah SDN Sumberkerto I, Andi Sukensi, Senin (12/9/2011) siang.

Menurut dia, pada bulan Mei dan Agustus 2011 ini, pihak sekolah sudha membuat proposal pengajuan anggaran untuk membuat kelas baru. Hanya saja, sejauh ini belum ada kepastian kapan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang memberikan bantuan.

Dijelaskan Andi, SDN Sumberkerto I dulunya bertempat di samping SDN Sumberkerto II yang berjarak 4 kilometer dari lokasi yang baru. Sejak tahun 2006 lalu, sekolahnya terpaksa pindah karena suasana lingkungan tidak mendukung.

Lebih dari itu, ada permasalahan soal status tanah sekolah. Karena tanah milik warga, SDN Sumberkerto akhirnya pindah lokasi di Desa Sumberkerto RT6/RW3, Kecamatan Pagak. Asal usul tanah untuk sekolah yang baru ini, mendapatkan tanah seluas 990 meter persegi dari tanah waqaf milik H.Nurhasan.

“Baru empat tahun sekolah ini pindah. Tanahnya waqaf dari warga. Kita butuh 3 ruang kelas lagi. Karena 5 ruang kelas yang ada tak bisa menampung seluruh siswa,” paparnya.

Ditambahkan Andi, 5 ruang kelas ini terpaksa disekat-sekat menjadi dua ruang kelas. Dimana setiap ruang, diisi oleh siswa kelas 3 dan kelas 4. Sehingga, banyak siswa yang merasa terganggu karena suara gaduh murid dan penjelasan guru mata pelajaran berbaur jadi satu. “Jelas kami kurang nyaman dengan kondisi ini. Anak-anak jadi tidak konsen menerima pelajaran dari guru,” ucapnya.

Dari pengamatan beritajatim.com, dua guru yang memberikan mata pelajaran pada siswa di rumah warga, harus menjadikan satu papan tulis sebagai media pembelajaran. Bangku siswa juga harus diatur terpisah untuk kelas satu dan kelas dua.

Uniknya, saat guru kelas satu memberikan mata pelajaran matematika, guru kelas dua disampingnya justru mengajarkan muridnya dengan menyanyikan lagu pelangi-pelangi. Alhasil, suara guru kelas dua pun lebih muncul dibanding materi pelajaran matematika yang diberikan guru kelas satu. Pemandangan ini pun, sudah dirasakan siswa-siswi sejak empat tahun lalu.

“Nggak enak. Suasananya ramai dan mengganggu. Manda ingin punya kelas sendiri,” kata Amanda Savitri, murid kelas satu pindahan dari Cirebon, Jawa Barat itu.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti keris singosari karoseri adi putro sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs