Mantan Manager NOODDI Resto Dipolisikan

Sabtu, 20 Agustus 2011 - 08:15 WIB • Dibaca 220 kali

Foto: goblogit.wordpress.com

KLOJEN, MALANGRAYA.info – Sudah jatuh tertimpa tangga. Pepatah itu menggambarkan nasib Yanuar Arifin, 33 tahun, mantan Store Manager NOODDI Resto and Cafe di Mall Olympic Garden (MOG). Bagaimana tidak, sudah di-PHK tanpa pesangon, warga Jalan Selat Sunda Raya DI /47 Malang ini malah dipolisikan dengan tuduhan melakukan penggelapan beras senilai Rp 60 juta. Laporan yang dilayangkan Manager HRD NOODDI Jakarta, yaitu Bernard Sihombing dan Juliana Tambunan, hingga semalam masih dalam penyelidikan.

Baca Juga

Petugas masih mempelajari perkaranya, dengan mengumpulkan bukti-bukti serta meminta keterangan beberapa saksi terlebih dahulu. Selain Yanuar, beberapa karyawannya juga ikut dilaporkan ke Mapolres Malang Kota dengan tuduhan yang sama. Diantaranya Captain Area NOODDI Resto and Cafe, Rudi, koki Anjang serta tiga kasir yakni Linggar Kasih, Ani Fitria dan Nur Farida.

Informasi yang didapat Malang Post, dari sekian karyawan ini, yang paling dibidik adalah Yanuar Arifin dengan alasan dia adalah store managernya.

“Saya dilaporkan ke polisi ketika saya sudah mengundurkan diri sejak 1 Agustus lalu karena mendapat pekerjaan lebih baik di Surabaya," ujar Yanuar Arifin, dihubungi via telepon. Ditambahkan Nandi Wardana, mantan Captain Kitchen di NOODDI tersebut, bermula dari kebangkrutan resto dan café ini. Pihak Manager HRD yang tak mau dipersalahkan dengan kebangkrutan itu, menuduh bahwa kebangkrutan itu penyebabnya adalah para karyawan.

Untuk menyudutkan karyawan sebagai penyebabnya, Manager HRD didampingi oleh Agung selaku Head Divisi Resto, lalu mengumpulkan seluruh karyawan Selasa (9/8) pagi. Dihadapan para karyawan, Manager HRD mengatakan bahwa NOODDI sudah tidak beroperasi. “Karena tidak beroperasi, kami lalu diminta melakukan stock of name (cek barang)," kata Nandi. Ketika stock of name, satu persatu karyawan kemudian dipanggil untuk menghadap Manager HRD. Mereka lalu disodori empat surat pernyataan untuk menandatangani.

Diantaranya surat PHK, surat pengunduran diri, surat pengakuan melakukan kesalahan, serta surat yang menyatakan bahwa tiga pimpinan karyawan (Yanuar, Anjang serta Rudi) telah melakukan kesalahan yang merugikan NOODDI. Jika mau menandatangani, karyawan dijanjikan akan mempermudah mendapatkan kembali ijazahnya serta diberikan gaji satu bukan, THR serta hak-haknya.

“Kalau saya dan dua kasih lainnya, diminta menandatangani salah satu surat pernyataan yang isinya bahwa kami telah membuat kesalahan dengan mencairkan voucher untuk membayar promo (iklan) NOODDI," tutur Linggar Kasih. Namun setelah penandatanganan seluruh karyawan selesai, petang harinya seluruh karyawan dikumpulkan lagi. Ketika berkumpul semua, Manager HRD mengatakan bahwa setiap karyawan harus membayar denda Rp 15 juta atas kerugian NOODDI. Tetapi setelah dinego, akhirnya turun menjadi Rp 3 juta.

“Karyawan sendiri saat mau membayar agar gaji dan THR diberikan saat itu juga untuk menutup denda," kata Nandi. Namun, karena pihak Manager HRD tidak mau serta karyawan juga tidak mau membayar sebelum pencairan gaji dan THR itulah, akhirnya malamnya langsung melaporkan ke petugas Polsekta Klojen.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti karoseri adi putro keris singosari sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs