Balita Bersisik Dari Kasembon

Rohim Wahyu Butuh Dermawan

Rabu, 3 Agustus 2011 - 18:05 WIB • Dibaca 101 kali

Foto: beritajatim.com

KASEMBON, MALANGRAYA.info – Usia Rohim Wahyu baru 3,5 tahun saat ayah kandungnya bernama Waryono (35) meninggal dunia. Waryono meninggalkan Wahyu setelah sakit dari pekerjaan beratnya sebagai transmigran di Kepulauan Natuna, Riau, tak kunjung sembuh. Ditengah penderitaan itulah, Sulistyowati (26) ibu kandung Wahyu, memutuskan untuk menetap di Dusun Bocok, Desa Pondok Agung RT3/RW2, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, sejak tiga tahun lalu.

Baca Juga

“Ayahnya sudah meninggal saat usia Wahyu masih kecil,” ucap Sulis.

Sejak ditinggal mati ayahnya, kondisi Wahyu justru membuatnya prihatin. Kondisi seluruh tubuhnya yang bersisik, membuat Sulis tak bisa meninggalkan putra semata wayangnya berlama-lama. Tragisnya, jika sisik pada kulit anaknya kambuh, rasa gatal bercampur panas, bisa membuat Wahyu tak pulas untuk tidur.

Menurut Sulis, sejak menderita kulit bersisik, dirinya belum pernah membawa Wahyu berobat. “Pernah sekali dibawa ke Rumah Sakit Syaiful Anwar, Kota Malang. Hanya dikasih salep kulit saja,” ungkapnya.

Selain diberi salep kulit dan ditarik ongkos puluhan ribu untuk bayar obat dan administrasi, Wahyu juga pernah dibawa ke Puskesmas Kasembon. Namun, itupun cukup sekali. Setelah itu, Wahyu tak pernah mendapatkan perawatan medis secara bertahap. Pihak rumah sakit sempat bilang jika Wahyu bisa sembuh kalau usianya sudah beranjak dewasa.

“Katanya sih bisa sembuh kalau anak saya sudah dewasa, mas. Itu kata rumah sakit,” terangnya.

Sulis menjelaskan, saat ini dirinya tinggal di gubuk reot milik Ibu Kandungnya bernama Sriah (48). Selama ini, Wahyu belum pernah dibawa berobat lagi. Saat ditanya apakah Sulis dapat program kesehatan dari Jamkesda, perempuan lugu ini malah menggelengkan kepala dan mengaku tidak tahu menahu.

“Jamkesda itu apa, mas. Saya tidak tahu,” katanya.

Dikatakan Sulis, sejak anaknya sakit, dirinya memang tidak pernah mendapatkan Jamkesda. Selama ini, bantuan biaya datang dari warga desa dengan jalan swasembada. Menanggapi itu, Kepala Dusun Bocok, Syamsul Hadi mengaku jika bantuan dari warga dalam bentuk swasembada dana diberikan Wahyu dan Ibunya untuk berobat. Sisanya, dibuat merehap gubuk reot yang ditinggalinya.

“Kasihan mas. Upaya warga sudah maksimal. Kalau dibawa ke dokter lagi, jelas masalahnya terbentu biaya,” kata Syamsul.

Dijelaskan Syamsul, Wahyu sangat butuh dermawan dan uluran tangan. Keluarga tak mampu ini tidak masuk Jamkesda karena minimnya sosialisasi tentang jamkesda dari pemerintah. Warga sudah berupaya menguruskan. Tapi, selalu terbentur aturan dan persyaratan yang macam-macam.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti karoseri adi putro keris singosari sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs