Balita Bersisik Dari Kasembon

Derita Rohim Wahyu, Si Balita Bersisik

Rabu, 3 Agustus 2011 - 17:22 WIB • Dibaca 112 kali

Rohim Wahyu, bocah malang yang tubuhnya dipenuhi sisik. Foto: detik.com

KASEMBON, MALANGRAYA.info – Seorang bayi dibawa usia lima tahun (Balita) menderita penyakit unik. Balita bernama Rohim Wahyu asal Dusun Bocok, Desa Pondok Agung RT3/RW2, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang itu mengalami kulit bersisik. Ironisnya, sisik pada kulit Wahyu akan semakin tebal saat suhu badannya berubah menjadi panas. Selain menebal, sisik pada kulitnya itu terasa gatal hingga membuatnya menangis.

Baca Juga

Wahyu adalah putra semata wayang Sulistyowati (26) dan Waryono. Saat ini, usia Wahyu masih 3,5 tahun. Akibat sisik pada kulitnya terus menebal, tak jarang sisik-sisik pada bagian tangan dan kakinya mengelupas. “Saya kasihan mas. Kalau badannya panas, rasa gatal pada tubuhnya yang bersisik semakin menjadi-jadi. Kalau sudah seperti itu, kami biasanya tak bisa berbuat apa-apa selain menghiburnya,” ungkap Sulistyowati, Ibu Kandung Wahyu, Rabu (3/8/2011) siang pada wartawan.

Siapa sebenanya Wahyu? Wahyu terlahir dari pasangan petani miskin. Hidup digubuk reot di Kawasan Kasembon, rumah Wahyu terbilang sangat jauh dari pusat Kota Malang ataupun Kabupaten Malang. Lokasi tinggal Wahyu bahkan lebih dekat dengan Kabupaten Kediri. Selama hidupnya, Wahyu mendapat bantuan dari warga sekitar untuk sekedar mencari obat yang duitnya, dicari warga dengan jalan swasembada dana.

Sebelum tinggal di Kasembon, Sulis dan suaminya tinggal sebagai transmigran di Kepulaun Natuna, Riau. Wahyu lahir tepat pada tanggal 9 Desember 2007 lalu. Sayangnya, ada sedikit malapetaka sebelum Wahyu lahir. Dimana, SUlis sempat mengalami kecelakaan akibat ditabrak seseorang. Akibat tabrakan itu, ketuban pada kandungan Sulis pecah. Diduga, pecahnya air ketuban inilah yang membuat kesehatan fisik Wahyu mengalami gangguan. “Saat usia kandungan 9 bulan sempat ditabrak motor. Setelah itu, anak saya lahir,” ungkapnya.

Memutuskan untuk melahirkan di Malang, Sulis pun membawa pulang Wahyu dan tinggal di Kasembon bersama ibu kandungnya bernama Sriah (48). Gubuk yang tak layak ditempati Sulis dan anaknya, sangat mengenaskan saat ini. Beruntung, rasa empati warga dengan mencarikan dana swasembada, sedikit bisa memperbaiki gubuk reot yang nyaris ambruk saat ditempati Sulis berikut Wahyu dan Ibu kandungnya.

Dijelaskan Sulis, setiap anak kandungnya panas demam, sisik dikulitnya ikut menghitam. Terkadang sampai mengelupas. Kalau sudah begitu, rasa badan anaknya teramat gatal. Biasanya, Sulis hanya mengipasi anaknya untuk mengurangi rasa sakit dan gatal pada tubuhnya.

Saat ditanya apakah Sulis pernah membawanya berobat dengan dana Jamkesda? Sulis malah balik bertanya apa itu Jamkesda. “Jamkesda itu apa mas. Saya nggak tahu,” ucapnya.

Setelah diterangkan jika Jamkesda adalah Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) alias pengobatan gratis bagi masyarakat miskin, Sulis hanya menggeleng. Dirinya tidak pernah mendapat pengobatan apapun. Bahkan, meski sempat dibawa ke layanan kesehatan, Sulis pun harus dibantu warga sekitar dengan dana pinjaman.

“Pernah dibawah ke Rumah sakit Syaiful Anwar oleh neneknya. Tapi hanya diberi obat salep. Kami juga membayar obat salep dan uang administrasinya. Jadi tidak gratis mas,” terang Sulis.

Menanggapi ini, Kepala Dusun Bocok, Syamsul Hadi mengaku jika warga dusun sudah berupaya maksimal memberikan dana swasembada pada Wahyu dan keluargannya. Namun, karena terbentur biaya, puskesmas kasembon juga tidak ada kelanjutan apapun terkait penyakit yang diderita Wahyu.

“Kami bersama warga dusun sudah berupaya mencarikan solusi biaya pengobatan mas. Tapi, selalu terbentu masalah dana. Dulu ada rujukan dari puskesmas. Hanya sekali. Setelah itu tidak ada kelanjutannya lagi,” papar Syamsul.

Ditegaskan Syamsul, sosialisasi Jamkesda dari Pemkab Malang juga tidak pernah sampai pada wargannya. Sehingga, banyak masyarakat miskin di daerah Kasembon yang tidak mendapat pelayanan kesehatan cukup baik.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Dr. Muhammad Fauzi mengatakan jika Jamkesda untuk anggaran tahun 2011 ada perubahan. Sehingga, harus ada perbaikan anggaran. “Anggaran Jamkesda berubah. Dari Rp.2 miliar menjadi Rp.3,9 miliar. Data yang masuk mengurus jamkesda sebanyak 30.000 pasien tidak mampu dari seluruh wilayah Kabupaten Malang,” ucapnya.

Fauzi berdalih, bisa saja Wahyu tidak masuk jamkesda karena memang alur untuk mendapatkan jamkesda itu harus lewat pernyataan desa. Dari desa, baru kemudian dilakukan cheklistt dengan 14 pertanyaan. Apabila memenuhi kategori, baru kemudian jamkesda itu diserahkan langsung ke Camat. “Memang mekanismennya seperti itu,” terang Fauzi.

Inilah gambaran ruwetnya birokrasi di Indonesia, Khususnya, Kabupaten Malang. Jelas warga miskin macam Sulis akan sangat rikuh jika harus datang ke ruang desa, kantor camat ditengah ringkih tangis anaknya akibat sisiknya gatal. Harus mondar-mandir berapa kali hanya untuk minta stempel dan menunggu hasil cheklist dengan 14 daftar pertanyaan yang itu semua, hanyalah akal-akalan birokrasi ditengah mahalnya biaya pengobatan dewasa ini.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang kereta matarmaja Berita kriminal pemerkosaan pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti karoseri adi putro keris singosari sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs