Daun Emas Kunci Kerajaan Singosari Ditemukan

Didatangi Ken Dedes Sebelum Temukan Daun Emas

Rabu, 27 Juli 2011 - 11:15 WIB • Dibaca 34,712 kali

Foto: beritajatim.com

LAWANG, MALANGRAYA.info – Daun Emas yang ditemukan Herman Subagyo (41), warga Jalan Mayjen Panjaitan, Kecamatan Klojen, Kota Malang dua tahun lalu, rupanya bukan proses kebetulan. Selain melewati rentetan perjalanan cukup panjang, Herman lebih dulu melewati beberapa fase spiritual sebelum akhirnya, sampai pada Petilasan Tunggul Ametung di kawasan Kebun Teh Wonosari, Kecamatan Lawang.

Baca Juga

Menurut Herman, dirinya lupa tanggal dan bulan apa daun emas itu ia temukan. Yang diingatnya, daun emas itu sudah dia simpan dalam dompet selama dua tahun ini. Sengaja tidak dipublikasikan. Selain tak ingin menebar banyak persepsi negatif, pasca daun itu ia temukan, Herman pun tak berniat untuk dipamerkan.

“Nggak enak saja kalau dipamerkan. Takut malah jadi fitnah dan persepsi negatif masyarakat. Saya bersedia menceritakan penemuan ini. Asal, ada beberapa tempat yang memang sangat rahasia untuk diungkapkan selama daun ini saya temukan,” terangnya.

Beritajatim.com bertemu Herman pun dalam keadaan tidak direncanakan. Selasa (26/7/2011) siang, Herman bercerita panjang lebar tentang prospek kerjanya sebagai sales executive. Pembicaraan yang panjang itu, Herman akhirnya keceplosan jika dirinya, mempunyai benda unik berupa daun.

Dari situlah Herman memulai kisah penemuannya. Berawal siang hari dua tahun lalu, Herman berkeliling mencari costumer. Tiba di daerah Blimbing, Kota Malang, Herman pun mampir ke tempat petilasan Ken Dedes, Ratu Jelita yang konon, mempunyai daya pikat luar biasa. Di petilasan Ken Dedes berupa pemandian, Herman sudah merasakan hawa tak lazim. Di tempat itu, Herman mencari tempat berteduh sesaat.

Tanpa diduga, Herman pun disambut juru kunci pemandian Ken Dedes, yang ternyata seorang perempuan. Di tengah sadarnya, Herman sempat melihat sosok perempuan cantik berbaju mewah dengan mahkota ratu. Diyakininya, ratu bermahkota tersebut adalah Ken Dedes. Saat melihat ke arahnya, ratu bermahkota membawa semangkuk bunga. Bunga itu sempat diceburkan ke dalam bak air sebelum akhirnya, dikibaskan tepat pada kepalanya.

“Saat itu saya masih dalam kondisi sadar seratus persen. Ratu bermahkota itu mengkibaskan bunga yang dicelupkan air diatas kepala saya. Setelah itu, juru kunci pemandingan juga mengatakan kalau saya, diminta untuk pergi ke Gunung Katu,” paparnya.

Nah, selepas dari sini, Herman pun berangkat ke Gunung Katu di kawasan Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Nama Gunung Katu, sangat populer bagi masyarakat pecinta klenik dan pemburu benda-benda pusaka. Sore hari tiba di Gunung Katu, indera keenam Herman pun mulai berjalan.

Dalam keadaan sadar, ia mencatat beberapa peristiwa penting. Uniknya, setiap menemukan tanda-tanda jejak spiritual, Herman selalu mencatatkan dalam kertas. Termasuk, menuliskan beberapa rumus-rumus dan lokasi sekelilingnya.

“Dalam posisi sadar melihat dunia gaib, saya biasanya mencatatkan peristiwa apa saja yang saya lihat di sekelilingnya. Dari situ, saya kaji lagi dan dalami apa makna sesungguhnya,” ucap Herman.

Diceritakan Herman lebih jauh, ada misteri besar yang menyelimuti Gunung Katu. Pantas jika tempat ini menjadi buruan pelaku spiritual dari berbagai daerah. Mengingat, gunung itu ternyata menyimpan barang gaib berupa Kaca Benggala. Konon, ahli spiritual di Malang yang sempat ditemui beritajatim.com mengatakan, Kaca Benggala sangat diburu para pencari benda-benda pusaka berbau magis.

Dengan memiliki Kaca Benggala, seluruh benda pusaka dari penjuru manapun, bisa dilihat. Sayangnya, tidak ada satupun pelaku pemburu benda-benda magis yang berhasil memperolehnya. “Sampai hari ini Kaca Benggala itu masih tersimpan di Gunung Katu. Kaca Benggala yang saya lihat langsung, seperti mata besar. Di dalam mata itu, ada sosok perempuan bergaun putih,” katanya.

Herman melanjutkan, mata besar itulah Kaca Benggala sebenarnya. Dari penglihatan dalam kondisi sadar itu, Herman diberi keris tanpa warongko. Siapa yang bisa membawa pulang Kaca Benggala, bisa mengetahui letak dimana pusaka-pusaka gaib diseluruh tanah Jawa. Selepas dari Gunung Katu, Herman pun berjalan kembali keesokan harinya ke beberapa candi. Di antaranya adalah Candi Jago dan Candi Kidal.

Menurut pengamatan dia, Candi Jago dan Candi Kidal yang ada di Kabupaten Malang, adalah salah satu sejarah dan bukti nyata jika Kerajaan Singosari, sebenarnya masih ada. Kedua candi itu adalah bagian dari seluruh harta karun Singosari. “Kelihatannya saja candi itu cuma berdiri tegak. Tapi di balik itu semua, ada makna tersembunyi. Penerus Kerajaan Singosari akan hadir kalau sudah tiba waktunya,” terang Herman.

Lelaki kelahiran Nganjuk, Jawa Timur yang punya beberapa pusaka sejarah bernilai tinggi menambahkan, selepas pulang dari dua candi itu, dirinya kerap didatangi orang-orang berpakaian laiknya kerajaan. Kedatangan orang-orang kasat mata dalam tidurnya berbaju kerajaan, terjadi selama tiga malam berturut-turut. Pesan yang dia tangkap adalah, kelak yang bisa mewarisi seluruh kemasyuran Kerajaan Singosari dan harta karunnya adalah, seseorang yang memegang keris luk 13.

Pusaka keris luk 13 ini adalah pusaka sejarah saat Singosari masih menjadi kadipaten sebelum jadi kerajaan. “Keris luk 13 Singosari ada di Kediri. Secara spiritual, saya tahu dimana lokasi pemegang keris 13 itu. Tidak etis kalau saya sebutkan. Namun, pemilik keris itu sudah lama wafat. Sekarang, keris itu jatuh pada anaknya. Hanya saja, anaknya tidak tahu kalau keris itu adalah pusaka sejarah untuk menguasai harta karun Singosari,” kata Herman.

Nah, dari perjalanan keseluruhan itulah, Herman akhirnya menuju Petilasan Tunggul Ametung. Saat tiba ditempat itu, Herman tidak menduga jika ada daun di atas pusara Tunggul Ametung. Padahal, petilasan itu masuk dalam rumah yang layak disebut cungkup. Logikanya, tidak mungkin daun pepohonan bisa masuk kedalam cungkup rumah yang tertutup rapat.

Saat ditemukan pertama kali, daun itu masih berwarna hijau segar. Bentuknya, sangat mirip dengan daun cempaka. Istimewanya daun itu memancarkan sinar keemasan saat tersinari matahari yang cahayanya, masuk lewat atap genting cungkup. Merasa aneh, diambilnya daun itu. Disimpan dalam dompet dan baru terungkap hari ini jika daun emas itu, diyakini sebagai kunci menuju Kerajaan Singosari.

“Saya sempat balik lagi ke petilasan Tunggul Ametung beberapa kali. Tapi, tidak ada lagi daun tergeletak di pusara dengan memancarkan cahaya keemasan,” pungkasnya.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

  • depril

    Thanks gan info sejarah nya , :D

  • Andrew

    menarik untuk disimak sejarah kerajaan yang berkaitan dengan kerajaan singasari

x close
penemuan benda pusaka penemuan benda gaib penemuan pusaka kaca benggala pemburu benda benda mustika pusaka gaib terbaru pusaka tanah jawa gunung katu penemuan barang gaib daun emas singosari penemuan gaib misteri pemandian kendedes cerita pusaka gaib pusaka kaca benggala patung emas kendedes cerita gaib sejarah gaib tanah jawa penemuan benda mistis penemuan pusaka gaib berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti karoseri adi putro keris singosari sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs