Wayang Jarit

Kain Dilipat, Laba pun Berlipat

Senin, 23 Mei 2011 - 10:46 WIB • Dibaca 181 kali

RUMIT - Sonny Yohanda (30), perajin lukisan berbahan kain batik saat menyelesaikan kerajinannya di salah satu stan festival Malang Tempoe Doeloe (MTD), Jl Ijen Kota Malang, Sabtu (21/5) lalu. Kerajinan Lurik Antif tersebut dijual Rp 500.000 hingga Rp 27,5 juta. Foto: surya


KLOJEN, MALANGRAYA.info – Biasanya harga kain jarit atau sewek kualitas biasa hanya sekitar puluhan ribu rupiah per lembar. Tapi, di tangan Sonny Yohanda, jarik yang sama mampu bernilai Rp 500.000 sampai Rp 27,5 juta. Wow!

Baca Juga

Sonny memanfaatkan jarit sebagai bahan utama untuk membuat lukisan unik. Jika biasanya lukisan identik dengan cat dan kuas. Sony mencoba menggunakan kain jarit gendongan untuk membuat lukisan wayang. Selembar jarit, oleh Sonny dilipat-lipat hingga menjadi seni lukis timbul. Karya lukis ini murni menggunakan jarit tanpa disumpal bahan apapun.

Setiap karya dibuat tanpa menggunakan sketsa. Inilah yang menyebabkan satu lukisan bisa membutuhkan waktu lebih dari satu bulan. “Sebab bila baru buat setengah jadi dan ternyata tidak cocok dengan selera, ya dirombak dan mulai lagi dari awal," ujar Sonny.

Tingkat kesulitan dan banyaknya kain jarit yang digunakan menjadi dasar menentukan harga. Lukisan yang menggunakan selembar jarit berwujud satu tokoh wayang misalnya, dibandrol sekitar Rp 500.000. Semakin banyak jarit yang digunakan dan tokoh wayang yang ditampilkan, semakin mahal harganya. Bahkan ada lukisan yang menggunakan enam jarit bergambar lima tokoh wayang dibandrol Rp 27,5 juta. Ia bisa membuat tokoh wayang dalam rangkaian cerita, seperti Barata Yudha dan Rama Shinta.

Bila kurang cocok dengan bahan, peminat bisa membawa sendiri kain jarit dan memesan bentuk tokoh wayang yang diinginkan.

Sulit Pemasaran

Wali Kota Malang, Peni Suparto termasuk salah satu pelanggan yang pernah memesan dengan membawa jarik sendiri. Berdasar penuturan bapak satu anak ini, Peni memesan tokoh wayang Bima dengan menggunakan jarit khas Malang. Maklum, Pemkot Malang gencar mengampanyekan batik Malang.

“Katanya itu akan digunakan sebagai cenderamata untuk Presiden SBY. Saat itu saya hanya minta Rp 4,5 juta saja untuk honornya," kata Sonny yang juga berpameran di Festival Malang Kembali VI Jl Ijen itu.

Sonny mengakui pangsa pasar kreasi jarit di Malang masih sangat rendah. Diduganya, ini karena Malang memang bukan basis seni sebagaimana Jogjakarta dan Bali. Untuk itu, tidak mengherankan jika dalam satu bulan, kadang tak satupun karyanya terjual.

Pria asli Landungsari Kota Malang ini mengakui sebenarnya dirinya tidak memiliki latarbelakang pendidikan bidang seni. Pendidikan terakhirnya STM Muhammadiyah jurusan elektronik. Tapi sejak SD, Sonny sudah sering melukis. Baru mulai 2007 silam dirinya mencoba berkreasi dengan menggunakan jarit.

Selalu Diawali Senin atau Kamis

KHAS PEWAYANGAN - Aneka tokoh wayang menjadi ciri kerajinan Sonny. Mulai Mbok Gendong, Rama Shinta, Bima, hingga 4 tokoh punakawan. Foto: surya

Karakteristik tokoh wayang sering dikaitkan dengan tirakat. Begitu pula dengan Sonny sebelum membuat memulai membuat lukisan jariknya.

Setiap lukisan selalu dibuat pada hari Senin atau Kamis. Meski leluhurnya memiliki jiwa seniman, kebiasaan ini bukan berasal dari warisan leluhur. Pria yang membuka galeri Kerajinan Jarik Lurik Antif (Lukisan Jarik Anyaman Kreatif) ini memang biasa puasa setiap Senin dan Kamis. Walau tidak membuat lukisan, puasa sunnah ini tidak bisa ditinggalkan.

Tapi, Sonny memilih memulai melukis hari Senin atau Kamis agar hasilnya terlihat lebih hidup. Menurutnya, memulai melukis dengan kondisi membuatnya lebih tenang.

“Kalau tenang, saya bisa fokus membuat lukisan jarik ini. Kalau tidak fokus, sedikit-sedikit harus dirombak," tandas Sonny.

Selain ketenangan dan konsentrasi, tidak ada dampak lain yang diakibatkan bila dirinya melanggar pantangan itu. Jadi sekalipun tidak mengawali melukis dengan puasa, tidak masalah. Sebagai seniman, Sonny ingin memberikan karya yang terbaiknya.

Dua adiknya, Adam dan Doni mulai mengikuti jejaknya. Awalnya Adam dan Doni kurang percaya diri menekuni lukisan jarik ini. Kualitas lukisan kurang alias jelek sempat menghantui keduanya saat akan memulai serius pada lukisan jarik.

“Saya selalu bilang, tidak ada yang jelek bagi seni. Alhamdulillah sekarang keduanya sudah percaya diri dengan karyanya," terangnya.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

  • Sumber : surya
  • Dipublikasikan : Dyah Ayu
x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti karoseri adi putro keris singosari sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs