Pro-Kontra Hasil Pemilu BEM

UIN Ricuh Lagi

Minggu, 22 Mei 2011 - 08:37 WIB • Dibaca 174 kali

BENTROK - Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, terlibat aksi bentrok dengan petugas satuan pengamanan kampus setempat. Foto: media indonesia

LOWOKWARU, MALANGRAYA.info – Pemilihan umum (Pemilu) Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim Malang, 26 April lalu, kembali berujung ricuh. Puluhan mahasiswa dan sekuriti kampus saling dorong di lobi rektorat, Sabtu (21/5).

Baca Juga

Puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Peduli Keadilan (AMPK), menuntut Rektor Prof Dr Imam Suprayogo menghentikan proses penghitungan suara, Sabtu (21/5). Mereka mendesak agar pihak rektorat segera membakar kertas suara yang sudah dicoblos, lantaran dinilai cacat hukum.

“Penghitungan suara itu, kami nilai cacat hukum. Sebab pihak rektorat mengatasnamakan kami, tapi kami tidak dihubungi jika hari ini (kemarin, Red) berlangsung penghitungan suara," pekik Sahmawi, mahasiswa jurusan Psikologi, koodinator AMPK, Sabtu (21/5).

Penghitungan itu dilakukan pukul 12.30 WIB dengan dihadiri 3 perwakilan mahasiswa dari Badan Penyelenggara Pemilu Raya (BP2R), dan tanpa mengikutsertakan perwakilan mahasiswa atau di luar panitia pemilu. Akibatnya, sekitar 50 mahasiswa berang dengan menumpahkan kekesalannya menerobos masuk ke ruang rektor —tempat dilaksanakannya penghitungan suara.

Sekitar pukul 15.00 WIB, mereka berhasil masuk ke lobi rektorat. Namun untuk menembus ruang rektor, mereka terhalang barikade sekuriti kampus dan anggota Polresta Malang. Para mahasiswa itu mencoba merangsek dengan cara mendorong. Tak pelak, terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan sekuriti.

“Kami datang untuk memantau dan mengamankan situasi. Kalau ada anggota kami (polisi) yang mendorong (mahasiswa), itu manusiawi. Polisi juga manusia, dia juga memiliki respons melindungi diri," tandas Kompol Abdul Kholiq, Kabag Ops Polresta Malang.

Terselubung

Kecacatan hukum dalam pemilu, menurut AMPK, tidak hanya penghitungan suara yang dinilai 'terselubung', tapi juga intervensi pihak rektorat kepada seorang calon dari Partai Mahasiswa Bersatu (PMB), hingga membuatnya mundur dari pencalonan.

“Semula ada tiga calon, tapi calon dari PMB mundur. Jadi tinggal dua calon, yakni dari Partai Pencerahan dan Partai Keadilan Demokrasi Mahasiswa (PKDM)," kata Sahmawi.

Dalam aksi kemarin, selain ada kubu yang kontra dengan proses pemilu, juga ada kubu yang pro. Kubu yang pro ini juga berniat menerobos lobi rektorat, tapi terblokir sekuriti.

Agus Maimun, Pembantu Rektor III UIN Malang, mengungkapkan, pihaknya sekadar menghitung, dan belum mengarah ke kesimpulan ketua BEM. “Yang berhak memberi kesimpulan adalah Rektor dengan pengawalan mahasiswa. Sekarang Rektor di Medan," kata Agus.

Akses MalangRaya.info melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda di http://m.malangraya.info.

  • Sumber : surya
  • Dipublikasikan : Dyah Ayu
x close
berita kriminal remaja berita malang raya malang post harta karun majapahit malang post kriminal berita pencemaran udara arema 2012 pemain arema 2012 keris luk 13 daftar pemain AREMA 2012 batu town square penemuan benda pusaka juan revi suporter terbanyak di indonesia daftar pemain arema ovan tobing sendang kamulyan meteor cell malang pemain arema 2011-2012 logo kabupaten malang Berita kriminal pemerkosaan kereta matarmaja pilkada malang 2013 pelacuran di malang daun emas this is arema razia villa songgoriti keris singosari karoseri adi putro sampah anorganik malangpost arema mtsn 1 malang kerajaan singosari penemuan benda gaib Local Blogs
Local TopOfBlogs